Covering Law Model (CLM)

 

CLM adalah model yang dikembangkan oleh Hempel (1959: 344-356) untuk memberikan penjelasan sejarah. Model ini berawal dari pikiran Hume  (1712-1776) seorang filosuf berasal dari Skotlandia. Hematnya, alam diatur oleh hukum-hukum tertentu, demikian pula perbuatan manusia harus tunduk kepada prinsip-prinsip tertentu yang konstan dan universal. Pendapat ini kemudian didukung oleh Auguste Comte (1798-1857) dengan aliran positivismenya yang mengusung hanya satu jalan untuk mencapai pengetahuan yang benar dan dipercaya-entah apa obyek penelitiannya apakah alam hidup, alam mati, sejarah dan sebagainya, yaitu menerapkan metoda-metoda ilmu eksakta.

Pengaruh kuat  aliran postivis ini merasuk pada pikiran Hempel. Ia dalam teorinya yang dikenal dengan covering law model (CLM), mengklaim, bahwa dalam mengeksplanasi suatu peristiwa berarti menunjukan suatu pernyataan yang dapat dideduksikan dari (1) pernyataan-pernyataan tertentu tentang kondisi yang mendahuluinya atau yang terjadi secara bersamaan, dan (2) hukum-hukum atau teori-teori universal tertentu dapat diuji secara emperik.

Untuk memudahkan pemahaman dari pandangan Hempel dengan CLMnya, kita dapat mengambil contoh. Bagaimana tentara Irak dibawah Sadam Husein dapat diporakpporandakan oleh tentara Amerika pada tahun 2003 ?. Pertanyaan ini jika diterangkan menurut pola pikir CLM berbentuk sebagai berikut:

(1). Selalu, bila musuh menyerang dengan kekuatan militer yang kuat dan canggih,

terlebih dapat mendominasi udara, maka perlawanan dapat dihentikan,

(2) . Tentara Amerika dengan jelas dapat memperlihatkan keunggulan militernya bila

dibandingkan dengan tentara Irak.

 

Contoh lainnya adalah bagaimana ketika negara-negara dikenal dengan sebutan Newly Industrial Economics ( NIES) di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia dan Thailand pada dekade 70an-80an mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat? Pertanyaan ini jika diterangkan sama seperti di atas maka bentuknya sebagai berikut:

 

(1). Selalu, bila suatu negara yang membangun dengan teori pembangunan pertumbuhan

cepat (rapid growth) akan cepat mengalami pertumbuhan ekonominya,

(2). Teori pembangunan pertumbuhan cepat ( rapid growth) adalah resep yang paling

handal untuk memajukan pertumbuhan suatu negara.

 

Dari contoh dua pertanyaan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa peristiwa yang ingin diterangkan ( eksplanandum ) diterangkan dengan memuaskan (eksplanasi). Sebab dalam CLM eksplanandum disimpulkan melalui sebuah deduksi logis dari sebuah ucapan nomologis (yang bersifat pola hukum). Untuk itu CLM sering juga disebut model deduktif-nomologis.

 

Pernyataan  penjelasan CLM mengelitik bagi para penentangnya. Bagi para penentang CLM  penjelasan yang dianut oleh  penganut CLM sangat naif. Bukankah perlawanan pejuang Irak terhadap tentara Amerika sampai saat ini semakin membahana. Bukankah negara yang tergabung dalam NIES memasuki tahun  2000an paling tidak Indonesia dalam pertumbuhan ekonominya sangat tertatih-tatih, kalau tidak ingin disebut tersungkur.

Apabila dicermati pandangan CLM ini sangat  deterministik  yaitu kausalitas dalam fenomena historis hanya dikembalikan kepada satu faktor saja. Faktor itu melulu dianggap sebagai faktor tunggal yang menjadi faktor kausalitas.

Salah seorang penentang CLM bernama Morton White(1959:361), menyatakan bahwa  eksplanasi sejarah terutama merupakan suatu kesempatan untuk menjawab pertanyaan mengapa (why)? Bukan merupakan sebab yang alami. Suhu banyak sejarawan di Indonesia, yaitu Sartono Kartodirdjo yang saat ini menjadi  professor emeritus di Universitas Gadjah Mada dengan aliran Bulak Sumurnya  menjawab pertanyaan mengapa dalam penjelasan sejarah adalah dengan menggunakan pendekatan multidimensional.

Pendekatan multidimensional yang ditawarkan oleh Sartono semakin dipahami ketika  kita membaca karya Peter Burke , yaitu  History and Social Theory ( 1993 ). Buku  itu  pada tahun 2001diterjemahkan  ke dalam Bahasa Indonesia yang  diterbitkan oleh yayasan Obor Indonesia. Dalam bukunya Burke (2001) selain membincangkan bagaimana para sosiolog dan sejarawan saling menggunakan konsep-konsep dari masing-masing disiplin, dan berupaya juga menjelaskan mengapa dan bagaimana sejarawan dan ilmu-ilmu sosial perlu memperdalam apresiasi mereka terhadap hasil kerja sejawat diluar disiplin masing-masing dan meninggalkan dialog take and give dalam persoalan serius seperti masalah epistemologi dan konstruk-konstruk dari masing-masing disiplin ( mudah2 bermanfaat ) Bang Ifull