Pada awal Perang Dunia I Italia adalah negara netral. Tetapi tahun 1915 Italia mengumumkan perang terhadap Austria dan Italia bergabung dengan Perancis, mengingkari Triple Alliansi (Jerman, Auastria dan Italia) tahun 1882 yang telah ditandatanganinya. Antara Italia dan Austria terdapat juga pertentangan meskipun keduanya termasuk Triple Alliantie, ialah mengenai daerah Tirol Selatan Istria, Dalmatia dari Austria yang dituntut Italia sebagai daerah italia irredent,. karena itu posisi Italia mulai tidak konsisten, dan sewaktu-waktu dapat keluar dari triple alliantie. (I Gamidi, 1957: 120).

Pasca Perang Dunia I situasi dalam negeri  Italia menghadapi pergolakan, meskipun Italia berada di pihak yang menang, namun Italia merasa keinginannya tidak terpenuhi. Bangsa Italia berkeinginan mengembalikan kejayaan Italia seperti kerajaan Roma di masa lampau. Dengan demikian Italia bermaksud mengembalikan seluruh wilayah Italia yang dahulunya merupakan “Italia Iredenta”. Keuntungan Italia dari Perang Dunia I, tidak sesuai dengan cita-cita rakyat Italia. Apa yang didapat Italia setelah Perang Dunia I, hanya merupakan sebagian daerah Tirol Selatan dan wilayah Istria sehingga tidak memuaskan bangsa Italia. (Makmun Salim,1971: 6-7).

Berakhirnya Perang Dunia I membawa kesulitan ekonomi, politik dan perasaan meluas bahwa bangsa mereka akan mengalami keruntuhan. Rakyat menderita secara material, adanya partai-partai yang beragam tidak mampu mengatasi masalah-masalah bangsa. (Harun Yahya. 2004: 57).  Tuntutan Italia terhadap Dalmatia dan Albania minta supaya diakui tidak terwujud, karena wilayah itu penting bagi Italia untuk mengawasi laut Adriatik. Pemerintah tidak mendapatkan lagi kepercayaan dari rakyat karena tidak berhasil memperjuangkan kehendak orang banyak. Keadaan negara sesudah perang sangat rawan kekurangan bahan makanan. Bahan mentah mengalami kenaikan, anggaran belanja tidak seimbang dengan pemasukan, juga adanya ancaman inflasi. Kaum buruh segera bertindak mengambil alih pabrik dan mengeluarkan pemiliknya. Pemogokan terjadi di mana-mana sehingga melumpuhkan industri dan jawatan pemerintah yang vital. Kerusakan hebat timbul di daerah pertanian, kaum tani merampas tanah, membakar rumah dan menghancurkan hasil panenan. (Rasyid Hamid, 1992: 29-30) Italia selain merasa terhina secara nasional, lebih banyak lagi rakyat merasakan penghinaan pribadi karena mengganggur dan tidak punya uang. Antara tahun 1918-1923, Italia menderita krisis ekonomi, kemiskinan di Italia membuat hutang berlipat-lipat. Kurang lebih 95. 000 juta lira pada tahun 1920. (Hugh Purcell, 2004:23)

Faktor lain yang membuka jalan bagi Fasisme adalah kebodohan dan rendahnya pendidikan dalam masyarakat. Pendidikan mengalami kemunduran hebat selama kekacauan Perang Dunia I. Banyak kaum muda terpelajar yang tewas dalam medan pertempuran. Pada umumnya hal ini mengakibatkan kemunduran tingkat kebudayaan dalam masyarakat. Sebagian besar pendukung Fasisme adalah kaum tidak terpelajar, para kaum tidak terpelajar berjuang atas nama Fasis, dan menjadi pelindung bagi kebijakan-kebijakan chaufinistiknya. Karena, ide-ide fundamental yang mendasari Fasisme (yakni rasisme, nasionalisme romantik,dan chauvinisme) hanya dapat diterima luas oleh kalangan tidak terpelajar, yang lain mudah terpojok oleh slogan-slogan mentah dan sederhana. (Harun Yahya. 2004: 61)

Faktor lain munculnya Fasisme adalah adanya ketakutan akan komunis. Tahun-tahun sesudah 1918 semakin mengindikasikan bahwa demokrasi di Italia akan diakhiri oleh komunisme dari pada oleh Fasisme. Peristiwa luar biasa yang terjadi adalah Revolusi Rusia, sedang tatanan social baru yang telah didirikan di sana oleh Bolsheviks Lenin adalah komunisme. Dalam keaadaan yang demikian, tampak bahwa pemberontakan komunis sangat mungkin menyebar kearah barat. Di Italia, pada tahun 1920, komunis menduduki pabrik-pabrik di Turin dan Milan. (Hugh Purcell. 2004: 27) Kelemahan-kelemahan Italia ini juga disebabkan oleh ketidakcakapan raja Victor Emanuel III yang ketika itu memerintah. Hasrat rakyat ini, kemudian seperti sebuah peluang yang baik bagi Benito Mussolini, karena kemudian pada tahun 1922 Benito Mussolini menuntut Victor Emanuel III turun dari jabatanya sebagai raja. Cita-cita rakyat untuk mengadakan perubahan dalam pemerintahan berhasil. Pemerintahan Italia semuanya tergantung pada kepemimpinan Mussolini. Mussolini yang pada saat Coupnya, sangat terkenal dikalangan rakyat Italia yang tegar dan berwibawa. Namun dengan ketegasan ini, kiranya akan melahirkan apa yang disebut pemerintahan diktator. UNTUK DOWNLOAD MAKALAHNYA, SILAKAN KLIK DISINI…

About these ads